Key facts
- Iran mengeksekusi sedikitnya 834 orang sepanjang tahun 2023, melonjak 43 persen dari tahun sebelumnya.
- Mohammad Ghobadlou dieksekusi pada 23 Januari 2024 terkait protes nasional meskipun ada gangguan kesehatan mental.
- Penjara Ghezel Hesar di Karaj merupakan salah satu lokasi eksekusi massal paling aktif di Iran.
- Etnis minoritas Baluch mencakup 20 persen dari total eksekusi meski hanya 5 persen populasi.
- Setidaknya 22 wanita dieksekusi di Iran pada tahun 2023, angka tertinggi sejak 2014.
- Pengadilan Revolusioner menangani kasus keamanan nasional tanpa akses pengacara pilihan bagi terdakwa.
- Eksekusi publik kembali dilakukan di jalan-jalan kota seperti Maragheh pada Desember 2023.
- Undang-undang Anti-Narkotika menyumbang lebih dari separuh total hukuman mati yang dilaksanakan secara nasional.
Eskalasi Eksekusi Iran: Realitas di Balik Angka
Fenomena eksekusi Iran telah menjadi pusat perhatian global karena frekuensinya yang meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang dihimpun oleh organisasi pemantau independen, tahun 2023 mencatat angka tertinggi pelaksanaan hukuman mati dalam delapan tahun terakhir. Praktik ini bukan sekadar penegakan hukum kriminal biasa, melainkan sering kali merupakan manifestasi dari ketegangan politik domestik. Amnesty International melaporkan bahwa otoritas Iran menggunakan tiang gantungan sebagai alat penindasan massal untuk mengintimidasi rakyat agar tidak berpartisipasi dalam aksi protes anti-pemerintah.
Statistik menunjukkan bahwa eksekusi Iran tidak mengenal jeda, bahkan di tengah tekanan diplomatik internasional. Pada bulan Mei 2023 saja, tercatat rata-rata tiga orang dieksekusi setiap harinya. Peningkatan ini sangat kontras dengan tren global yang perlahan-lahan meninggalkan hukuman mati. Penting bagi publik internasional, termasuk di Indonesia, untuk memahami bahwa di balik angka-angka ini terdapat individu-individu yang sering kali tidak mendapatkan hak pembelaan hukum yang layak. Banyak dari mereka berasal dari lapisan masyarakat paling miskin dan marjinal yang tidak memiliki koneksi politik untuk meringankan hukuman mereka.
Pelaksanaan hukuman mati ini dilakukan di berbagai penjara di seluruh negeri, dengan Penjara Ghezel Hesar dan Penjara Rajai Shahr di Karaj menjadi lokasi yang paling sering disebut dalam laporan-laporan HAM. Prosesnya biasanya dimulai dengan pemindahan narapidana ke sel isolasi beberapa hari sebelum hari eksekusi, yang sering kali dilakukan pada waktu fajar. Keluarga biasanya diberikan kesempatan terakhir untuk berkunjung, namun dalam banyak kasus, informasi mengenai pelaksanaan eksekusi baru diberikan setelah nyawa narapidana tersebut melayang, menyisakan trauma mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Tahun 2023 mencatat angka tertinggi pelaksanaan hukuman mati di Iran dalam delapan tahun terakhir, dengan lebih dari 800 jiwa dieksekusi.
Sistem Peradilan yang Cacat dan Pengakuan Paksa
Inti dari persoalan eksekusi Iran terletak pada sistem peradilannya yang sangat bermasalah. Pengadilan Revolusioner Islam, yang dibentuk setelah revolusi 1979, menangani sebagian besar kasus yang berujung pada hukuman mati, terutama yang berkaitan dengan 'keamanan nasional'. Di pengadilan ini, prinsip-prinsip hukum internasional tentang peradilan yang adil (fair trial) sering diabaikan. Para hakim di pengadilan ini dikenal memiliki bias ideologis yang kuat dan sering kali bertindak lebih sebagai perpanjangan tangan aparat keamanan daripada sebagai penengah hukum yang tidak memihak.
Salah satu metode yang paling umum digunakan untuk mendapatkan vonis bersalah adalah melalui 'pengakuan' yang disiarkan di televisi. Banyak tahanan yang kemudian dieksekusi melaporkan bahwa mereka disiksa secara fisik dan mental selama berminggu-minggu di pusat penahanan rahasia milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) atau Kementerian Intelijen. Siksaan tersebut mencakup pemukulan, kejutan listrik, dan ancaman terhadap anggota keluarga. Setelah mereka hancur secara psikologis, mereka dipaksa menandatangani dokumen pengakuan yang sudah disiapkan sebelumnya, yang kemudian menjadi satu-satunya bukti kuat di hadapan hakim.
Contoh tragis adalah kasus Mohammad Ghobadlou, seorang pemuda dengan gangguan mental yang dieksekusi pada Januari 2024. Meskipun ada perintah dari Mahkamah Agung untuk meninjau kembali kasusnya karena kondisi kesehatannya, otoritas tetap melanjutkan eksekusi dengan tergesa-gesa. Kasus ini menyoroti bagaimana sistem hukum Iran sering kali mengabaikan bukti medis dan prosedur hukum demi mencapai hasil yang diinginkan secara politik. Ketiadaan akses terhadap pengacara pilihan sendiri memperparah ketidakadilan ini, di mana terdakwa sering dipaksa menggunakan pengacara yang ditunjuk pengadilan yang tidak memberikan pembelaan yang berarti.
| Tahun | Total Eksekusi | Tuduhan Narkotika | Eksekusi Perempuan |
|---|---|---|---|
| 2019 | 280 | 30 | 15 |
| 2020 | 267 | 25 | 9 |
| 2021 | 333 | 126 | 17 |
| 2022 | 582 | 256 | 16 |
| 2023 | 834 | 471 | 22 |
Ketidakadilan Proporsional Terhadap Etnis Minoritas
Data mengenai eksekusi Iran mengungkapkan pola diskriminasi etnis yang sangat mengkhawatirkan. Warga Baluch, yang mayoritas beragama Islam Sunni dan tinggal di provinsi Sistan dan Baluchestan yang miskin, memikul beban terberat dari kebijakan hukuman mati ini. Meskipun mereka hanya mewakili sekitar 5 persen dari total populasi Iran, mereka sering kali mencakup lebih dari 20 persen dari total eksekusi tahunan. Diskriminasi ini berakar pada marginalisasi sistemik yang dilakukan oleh pemerintah pusat terhadap wilayah-wilayah perbatasan yang dianggap sebagai ancaman bagi persatuan nasional.
Selain warga Baluch, komunitas Kurdi di Iran barat juga menghadapi tekanan serupa. Tuduhan yang sering dikenakan kepada mereka adalah 'Moharebeh' (permusuhan terhadap Tuhan) atau 'Baghy' (pemberontakan bersenjata). Tuduhan-tuduhan ini bersifat sangat subjektif dan memberikan ruang yang luas bagi hakim untuk menjatuhkan hukuman mati berdasarkan interpretasi agama yang sempit. Amnesty International mencatat bahwa eksekusi terhadap tahanan politik Kurdi sering kali meningkat setelah adanya insiden keamanan atau protes di wilayah Kurdistan, menunjukkan penggunaan hukuman mati sebagai bentuk hukuman kolektif.
Situasi ini diperburuk oleh isolasi geografis dan sensor informasi di wilayah-wilayah minoritas tersebut. Seringkali, eksekusi di Zahedan atau Sanandaj tidak dilaporkan oleh media resmi pemerintah, sehingga jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi daripada yang berhasil diverifikasi oleh organisasi hak asasi manusia. Para aktivis lokal yang mencoba mendokumentasikan pelanggaran ini juga menghadapi risiko besar ditangkap dan dituduh melakukan spionase atau kerja sama dengan pihak asing, yang pada gilirannya dapat membuat mereka sendiri menghadapi tiang gantungan.
Eksekusi Terkait Narkotika: Menargetkan yang Miskin
Sebuah perubahan kebijakan pada tahun 2017 sempat membawa harapan akan penurunan jumlah eksekusi Iran melalui amandemen undang-undang anti-narkotika. Namun, sejak tahun 2021, tren ini berbalik secara drastis. Eksekusi untuk pelanggaran narkotika kembali mendominasi statistik hukuman mati. Hal ini sangat ironis mengingat Iran sering bekerja sama dengan badan-badan internasional dalam upaya pemberantasan narkoba, namun metode domestiknya tetap mengandalkan pendekatan yang sangat mematikan terhadap pelaku tingkat rendah.
Mayoritas dari mereka yang dieksekusi karena narkotika adalah individu-individu dari latar belakang ekonomi bawah yang terjebak dalam rantai distribusi sebagai kurir karena kemiskinan ekstrem. Mereka jarang sekali memiliki akses ke pengacara yang kompeten dan seringkali tidak memahami hak-hak hukum mereka. Sementara itu, para bandar besar yang mengendalikan perdagangan narkoba internasional jarang sekali tersentuh oleh hukum, menimbulkan kecurigaan adanya korupsi di tingkat tinggi dalam aparat penegak hukum Iran.
Masyarakat internasional telah berulang kali menyerukan kepada Kantor PBB untuk Urusan Obat-obatan dan Kejahatan (UNODC) agar menghentikan bantuan teknis kepada Iran selama hukuman mati tetap digunakan untuk kejahatan narkotika. Penggunaan hukuman mati untuk pelanggaran non-kekerasan adalah pelanggaran jelas terhadap Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR), di mana Iran merupakan salah satu anggotanya. Namun, pemerintah Iran terus berargumen bahwa hukuman mati adalah pencegah yang diperlukan, meskipun tidak ada data empiris yang mendukung klaim bahwa hukuman tersebut efektif mengurangi peredaran narkotika.
Hukuman Mati Sebagai Senjata Terhadap Perempuan
Evolusi eksekusi Iran juga menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan dalam jumlah perempuan yang dihukum mati. Pada tahun 2023, sedikitnya 22 perempuan dieksekusi, angka yang mencerminkan kekerasan sistemik terhadap perempuan di bawah hukum Iran. Banyak dari perempuan ini dihukum karena pembunuhan terhadap suami atau pasangan mereka, dalam kasus-kasus di mana terdapat bukti kuat bahwa mereka adalah korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berkepanjangan.
Hukum Iran tidak mengakui pembelaan diri atau provokasi sebagai faktor peringan yang signifikan bagi perempuan korban KDRT. Selain itu, sistem hukum 'Qisas' atau retribusi memungkinkan keluarga korban (yang dalam kasus pembunuhan suami, sering kali adalah keluarga suami itu sendiri) untuk menuntut hukuman mati daripada menerima kompensasi atau 'diyah'. Ini menciptakan ketidakadilan struktural di mana perempuan yang paling rentan secara sosial dan ekonomi tidak memiliki cara untuk melarikan diri dari jeratan hukum mati.
Kondisi di dalam bangsal perempuan di penjara-penjara seperti Qarchak sangat memprihatinkan. Para tahanan perempuan sering kali menghadapi pelecehan verbal dan fisik tambahan selama masa penahanan mereka. Eksekusi terhadap perempuan sering kali dilakukan secara rahasia, dan tubuh mereka sering kali tidak segera diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan, sebagai bentuk tekanan psikologis tambahan. Kasus Samira Sabzian, yang dieksekusi pada Desember 2023 setelah bertahun-tahun di penjara karena membunuh suaminya saat dia masih menjadi pengantin anak, menjadi simbol internasional bagi perjuangan melawan ketidakadilan ini.
Reaksi Internasional dan Tekanan Diplomatik
Tekanan internasional terhadap praktik eksekusi Iran telah meningkat, terutama melalui mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dewan Hak Asasi Manusia PBB telah membentuk misi pencari fakta independen untuk menyelidiki pelanggaran terkait protes 2022, termasuk penggunaan hukuman mati. Negara-negara Barat juga telah menjatuhkan sanksi yang ditargetkan kepada hakim-hakim pengadilan revolusioner dan pejabat penjara yang terlibat langsung dalam pelaksanaan eksekusi massal.
Namun, efektivitas sanksi ini masih menjadi bahan perdebatan. Otoritas Iran sering kali merespons kritik internasional dengan retorika kedaulatan nasional dan menuduh organisasi HAM sebagai alat kepentingan politik Barat. Meskipun demikian, kampanye global seperti 'Stop Executions in Iran' telah berhasil menunda beberapa eksekusi melalui tekanan publik yang masif di media sosial, menunjukkan bahwa perhatian internasional masih memiliki pengaruh, meskipun terbatas, terhadap keputusan otoritas di Tehran.
Ke depan, tantangan utama adalah memastikan adanya akuntabilitas bagi para pelaku pelanggaran HAM ini. Selama sistem peradilan Iran tetap tertutup dan tidak tunduk pada pengawasan independen, angka eksekusi kemungkinan akan terus berfluktuasi sesuai dengan kebutuhan politik rezim. Penting bagi komunitas internasional untuk terus mendokumentasikan setiap kasus dengan detail, karena arsip-arsip ini akan menjadi sangat penting bagi proses keadilan transisional di masa depan bagi rakyat Iran yang telah menderita selama dekade represi ini.
Takeaways
- Hukuman mati di Iran digunakan sebagai alat politik untuk meredam perbedaan pendapat pasca-protes 2022.
- Sistem peradilan Iran seringkali mengabaikan standar 'fair trial' internasional dengan mengandalkan pengakuan paksa.
- Terdapat ketidakseimbangan proporsional dalam penerapan hukuman mati terhadap kelompok etnis minoritas seperti Baluch dan Kurdi.
- Transparansi pemerintah Iran mengenai data statistik eksekusi sangat rendah, memaksa aktivis melakukan pemantauan independen.
Frequently asked questions
Mengapa jumlah eksekusi Iran meningkat tajam baru-baru ini?
Peningkatan jumlah eksekusi di Iran secara luas dipandang oleh para ahli hak asasi manusia sebagai upaya otoritas untuk menanamkan rasa takut di tengah masyarakat pasca gerakan protes 'Woman, Life, Freedom' yang dimulai pada September 2022. Dengan menggunakan hukuman mati untuk kejahatan narkotika dan dakwaan keamanan yang samar, rezim berupaya mengonsolidasikan kontrol sosial (Iran Human Rights, 2024).
Bagaimana prosedur peradilan bagi mereka yang menghadapi hukuman mati di Iran?
Banyak terdakwa yang menghadapi hukuman mati diadili di Pengadilan Revolusioner, di mana persidangan sering berlangsung singkat dan dilakukan secara tertutup. Terdakwa sering dilarang mengakses pengacara independen pilihan mereka dan dipaksa memberikan pengakuan di bawah tekanan fisik atau psikologis yang hebat selama masa penahanan pra-sidang di pusat-pusat interogasi (Human Rights Watch, 2023).
Siapa kelompok yang paling rentan terhadap eksekusi di Iran?
Kelompok etnis minoritas, terutama warga Baluch dari provinsi Sistan dan Baluchestan serta warga Kurdi, secara tidak proporsional menjadi sasaran hukuman mati. Meskipun mereka merupakan persentase kecil dari populasi Iran, mereka sering kali merupakan persentase terbesar dari mereka yang dieksekusi setiap tahunnya, terutama atas tuduhan terkait narkotika (Amnesty International, 2024).
Apakah Iran mengeksekusi orang yang melakukan pelanggaran saat masih di bawah umur?
Ya, Iran tetap menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia yang mengeksekusi pelanggar di bawah umur, melanggar Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi sendiri oleh Iran. Meskipun ada beberapa reformasi hukum, pengadilan masih memiliki diskresi untuk menjatuhkan hukuman mati jika mereka menganggap pelaku telah mencapai 'kematangan mental' pada saat kejahatan dilakukan (Abdorrahman Boroumand Center, 2023).
Entities: Amnesty International · Iran Human Rights (IHR) · Human Rights Watch · Abdorrahman Boroumand Center · Evin Prison · Ghezel Hesar Prison · Mohammad Ghobadlou · Jina Mahsa Amini · Islamic Revolutionary Court · Zahedan · United Nations Human Rights Council · Javaid Rehman


